Techno Cair (Pembuatan saving soap)

I.    FORMULA ASLI

Shaving Soap

II.  RANCANGAN FORMULA

Nama Produk                    :   Gently ® Shaving Soap

Jumlah Produk                  :   1 botol @ 50g

No. Reg                             :   POM. CD 1006770227

No.Batch                           :   E 04775

Tiap 50 g mengandung :

Minyak kelapa                   10%

Asam stearat                     30%

KOH                                 7%

NaOH                               1,5%

Gliserol                              10%

Cetyl alkohol                     1%

Minyak zaitun                   2%

Mentol                               0,2%

Metilparaben                     0,2%

Propilparaben                    0,02%

a-tokoferol                        0,03%

Parfum                              0,2%

Aquadest                           38,25%

III. MASTER FORMULA

PT.MITRA

FARMA

Gently ® Shaving Soap
Makassar

Indonesia

Master Formula Produksi Dibuat oleh : Disetujui oleh :
Kelompok III Nur Ida,S.Si,Apt.
Kode Bahan Nama Bahan Fungsi Bahan Per Dosis Per Batch
MK-01 Minyak kelapa Emulgator 5,5g 5,5g
AS-02 Asam stearat Emulgator 16,5g 16,5g
KO-03 KOH Emulgator 3,85g 3,85g
NH-04 NaOH Emulgator 0,125g 0,125g
GL-05 Gliserol Humektan 5,5g 5,5g
CA-06 Cetyl alkohol Emolien 0,55g 0,55g
MZ-07 Minyak zaitun Pelembut 1,1g 1,1g
ML-08 Mentol Penyegar 0,11g 0,11g
MP-09 Metilparaben Pengawet 0,11g 0,11g
PP-10 Propilparaben Pengawet 11mg 11mg
AT-11 a-tokoferol Antioksidan 16,5mg 16,5mg
PF-12 Parfum Pengaroma 0,11g 0,11g
AQ-13 Aquadest Pelarut 28,8375g 28,8375g

IV. DASAR FORMULASI

ALASAN PENAMBAHAN

  1. 1. Coconut oil
  • (Michael;367)

Asam-asam lemak yang umumnya diterima sebagai bahan ideal untuk krim cukur berbusa adalah asam stearat dan asam-asam atau minyak-minyak kelapa. Sabun asam stearat lembut dan menghasilkan massa utama dari krim, begitu juga halnya dengan badan busa. Sabun-sabun minyak kelapa menghasilkan busa dengan cepat dan dapat menjadi banyak. Untuk mendapatkan perbedaan yang khas pada kualitas penyabunan / pembusaan atau tekstur busa, banyak formulator menggunakan asam-asam lemak selain dari stearat dan menggunakan minyak-minyak seperti itu sebagai kastor, palm dan olive.

Ø   Kethler; 282

Macam-macam minyak dan asam yang digunakan dalam formulasi produk-produk ini dimasukkan dalam formula untuk alasan yang spesifik. Tiap-tiap bahan memiliki fungsi yang pasti. Minyak kelapa, dan asam-asam lemak kelapa, yang merupakan bahan-bahan paling umum, selain asam stearat, digunakan karena akan menghasilkan busa yang dapat menjadi banyak.

Ø   MC; 453

Kualitas-kualitas ini dapat diperoleh hanya dengan pemilihan bahan-bahan mentah yang sesuai. Asam stearat sendirian tidak akan dapat menghasilkan busa yang volumenya cukup, dan untuk tujuan ini ditambahkan beberapa minyak kelapa. Perbandingan asam stearat dengan minyak kelapa bervariasi dan tergantung berdasarkan pertimbangan atas produk-produk yang berbeda, namun penambahan kurang lebih 25% minyak kelapa dengan 75% asam stearat biasanya akan memuaskan.

Saponifikasi dari sejumlah lemak biasanya dikerjakan dengan campuran KOH dan NaOH. Karbonat-karbonat tidak direkomendasikan karena akan melepaskan karbondioksida (CO2) yang dapat terperangkap dalam krim.

Jumlah total asam lemak dalam krim bervariasi antara 35-50% dan reaksi akhir dari krim seperti itu 6 pada pH 10,0. Tipe air yang digunakan dalam krim, jika keras, akan membuat penggunaan sabun yang lebih banyak yang diperlukan untuk mendapatkan busa yang baik, dan pada air yang sangat keras, mungkin dibutuhkan peningkatan jumlah minyak kelapa yang ada dalam jumlah lemak.

Thomson dan kemp, telah dengan tepat menggambarkan perhatian terhadap fakta bahwa plastisitas dari krim cukur paling baik diperoleh dari perbandingan 5 : 1 KOH : NaOH dan dengan adanya 3-5% asam lemak bebas.

  • Balsam II;3

Sifat sabun minyak kelapa merupakan sabun cukur yang berbusa cepat dan berminyak

  • Amphar;304

Banyak minyak nabati merupakan bahan umum untuk mengawali pembuatan sabun, diantaranya minyak kelapa

  1. 2. Asam stearat
  • Jellineck;515

Asam stearat menghasilkan busa yang halus dan stabil

  • RPS 18th; 315

Asam stearat merupakan emulsifen sejati jika diencerkan dengan alkali

Ø   MC; 453

Asam stearat sendirian tidak akan dapat menghasilkan busa yang volumenya cukup, dan untuk tujuan ini ditambahkan beberapa minyak kelapa. Perbandingan asam stearat dengan minyak kelapa bervariasi dan tergantung berdasarkan pertimbangan atas produk-produk yang berbeda, namun penambahan kurang lebih 25% minyak kelapa dengan 75% asam stearat biasanya akan memuaskan.

  • (Michael;367)

Asam-asam lemak yang umumnya diterima sebagai bahan ideal untuk krim cukur berbusa adalah asam stearat dan asam-asam atau minyak-minyak kelapa. Sabun asam stearat lembut dan menghasilkan massa utama dari krim, begitu juga halnya dengan badan busa.

3        Kombinasi KOH dan NaOH

Ø   Jellineck; 515

Sabun toilet merupakan sabun Na murni, sabun cukur pada umumnya adalah sabun K, dengan jumlah kecil sabun Na. Sabun K lebih cocok untuk tujuan tersebut karena ia lebih mudah larut dalam air dan menjadi efektif lebih cepat. Ia juga menghasilkan busa yang lebih baik, lebih padat, daripada sabun Na. Sabun K dari asam laurat dan asam lemak yang lebih rendah kuat tetapi busanya kasar dan tidak terlalu stabil. Asam lemak dengan 8-12 atom karbon juga memiliki efek iritasi dan karena itu sebaiknya tidak hadir / tidak terdapat dalam sabun cukur dalam jumlah besar.

  • Balsam II;7

Seperti halnya dengan sabun batangan, tipe asam-asam lemak dan perbandingannya, baik sabun kalium dan sabun natrium secara luas menyebabkan busa yang dihasilkan adalah cukup. Dalam krim berbusa perbandingan ini menyebabkan tidak hanya pada sifat pembusaan, tapi juga stabilitas dan bentuk perubahan kecil dari perbandingan ini secara luas merubah kekentalan dan bentuk dari krim. Sabun natrium sebagai contoh cenderung untuk menghasilkan krim yang lembut dan busa yang lebih baik tapi kemungkinan tidak stabil.

Ø   Keithler; 280

Alkali yang paling umum digunakan dalam saponifikasi dari asam-asam ini adalah KOH dan NaOH. Kadang-kadang baik salah satu atau alkali lain digunakan sendirian. Bagaimanapun juga lebih umum untuk membuat campuran kedua-duanya. Perbandingan paling umum tampaknya 6 4-5 bagian KOH untuk 1 bagian NaOH. Variasi, tentu saja, akan menyebabkan perbedaan yang nyata baik dalam kualitas busa dan konsistensinya.

  • Modern Cosmetic;453

Thomson dan Kemp, secara tepat telah menggambarkan perhatian pada kenyataan bahwa plastisitas dari krim cukur yang terbaik diperoleh dengan perbandingan 5 : 1 pada KOH terhadap NaOH yang berada pada konsentrasi 3 – 5% asam  lemak bebas.

4  Gliserin (Humektan)

  • Modern Cosmetic;453

Untuk mencegah kekeringan terlalu cepat dari krim cukur, gliserin dimasukkan ke dalam formulasi. Pendapat yang berkenaan dengan efek ini pada sifat-sifat pembusaan dari variasi krim. Tersusun dari 10-15% ditemukan memuaskan. Gliserin mungkin digantikan oleh sirup sorbitol.

Ø   Balsam II ; 7

bahan berlemak yang sering digunakan adalah asam stearat bebas, minyak kelapa bebas atau minyak nabati, minyak mineral atau lanolin. Namun lanolin dan derivatnya digunakan dalam jumlah sedikit untuk sifat emoliennya. Kuantitas atau jumlah signifikan dari gliserol (5-10%) biasanya digunakan untuk membantu mempertahankan kelembutan dan kelenturan krim, serta meningkatkan busa dengan menjaga kelembaban. Propilen glikol atau sorbitol dapat menggantikan gliserol jika diinginkan.

Ø   Kethler; 281

Gliserin merupakan bahan yang sangat populer untuk krim cukur yang berbusa. Ia secara nyata memiliki pengaruh yang disukai terhadap konsistensi dari krim yang telah jadi, dan pada saat yang sama, meningkatkan kelembutan dan kehalusan dari krim. Sifat-sifat sebagai humektan tidak perlu dibahas karena telah dibahas pada banyak bab-bab sebelumnya. Namun bagaimanapun juga, untuk sifat humektan murninya, poliol-poliol dapat digunakan. Bagaimanapun juga, senyawa-senyawa ini tidak memiliki efek-efek yang disukai dibandingkan produk-produk yang dihasilkan gliserin. Meskipun sorbitol tidak direkomendasikan untuk ditambahkan ke dalam krim cukur tanpa sikat, penggunaannya dalam krim berbusa memiliki keuntungan-keuntungan yang jelas. Sorbitol merupakan bahan yang sangat higroskopis, dan pada saat yang sama, juga sebagai pelembut janggut. Penulis telah memimpin penelitian yang ekstensif untuk hal ini, dan menemukan bahwa sorbitol memiliki sifat melembutkan rambut yang pasti / jelas. Fungsi ini tidak dapat dihasilkan oleh gliserin.

  • Michael;367

Gliserin dan SORBO yang lebih ekonomis, keduanya digunakan secara luas sebagai humektan untuk tipe shaving krim digunakan konsentrasi 5-10%

5        Cetil alcohol (Emolient)

Ø   MC; 453

Emolient dapat ditambahkan dalam jumlah sedikit ke dalam krim “yang lebih lembut pada kulit”. Emolient yang dapat ditambahkan untuk tujuan ini adalah lemak bebas, lanolin, alkohol-alkohol lemak seperti cetyl alkohol, minyak mineral atau vaseline. Jumlah dari bahan tamabahan seperti itu harus dipertahankan rendah (6 1 %) jika sifat membusakan dari krim tidak dapat diganggu.

Ø   Kethler; 281

Emollient memiliki tempat yang sangat penting dalam krim cukur berbusa. Cetil alcohol dengan jumlah yang tetap pada prosuk sebagai hal utama dalam emulsifikasi dari produk, membantu dalam stabilitas dari krim, menghasilkan rasa beludru pada kulit, dikarenakan aksi emolientnya.

6 Minyak zaitun

  • Kethler; 282

Minyak kelapa dan asam lemak kelapa, dengan bahan yang sering digunakan, selain asam stearat, yang biasanya digunakan karena menghasilkan busa berlebihan. Bagaimanapun juga, sabun minyak kelapa mendesak, menyebabkan rasa yang pedas (tajam), atau iritasi pada setelah pencukuran. Oleh karena itu, hal ini penting untuk ditambahkan beberapa bahan yang dimasksudkan untuk menghilangkan iritasi ini. Beberapa minyak digunakan untuk menghilangkan atau menetralkan iritasi ini. Beberapa minyak digunakan untuk kapasitas ini dan yang terbaik dan konsekuensinya adalah biasanya minyak zaitun. Selain itu juga minyak zaitun sangat lembut dan sabun lembut dapat mengurangi iritasi dari minyak kelapa.

  • Balsam I; 8

Penggunaan asam yang terfraksionasi dari minyak kelapa atau minyak palem kernel telah ditetapkan membuat sabun yang tidak mengiritasi dengan sifat pembusaan yang bagus. Sabun dari kebanyakan minyak nabati yang terhidrogenasi sempurna atau minyak hewani (seperti minyak biji kpas, kacang kedelai, wijen, jagung, bunga matahari, zaitun dan kenseed) dan lemak, lemak babi, oleo, dan lain-lain tidak direkomendasikan untuk dipertahankan kestabilan pada suhu tinggi, dalam pemilihan sabun yang dibuat yang telah dijelaskan sebelumnya, bahan polimer penstabil, alkali, seperti turunan 2-amino-imidazoline, juga dimanfaatkan dalam krim berbusa, karena banyak krim berbusa sekarang yang dikemas dalam tube aluminium yang kolapsibel, 0,1-0,4% aluminium silikat dapat ditambahkan untuk mencegah korosi.

Ø   Contoh formula (Keithler; 285)

Asam stearat                                 35,86%

Minyak kelapa                               8,31%

Minyak zaitun                               1,21%

NaOH                                           1,01%

KOH                                             7,86%

Propilenglikol                                3,25%

Glyserin                                         1,99%

Air                                                 40,08%

Perfum                                          0,43%

Ø   Contoh formula (MC;454)

Asam stearat                                 30%

Minyak kelapa                               10%

Minyak palm kernel                      5%

KOH                                             7%

NaOH                                           1,5%

Glyserin                                         10%

Air                                                 36,5%

Parfum                                          q.s

Ø   Asam stearat                                 25 bagian

Minyak kelapa                               8 bagian

“Arlex” sirup sorbitol                    3,5 bagian

Asam borat                                    1,5 bagian

KOH                                             18 bagian

NaOH                                           2,5 bagian

Air                                                 39 bagian

Minyak zaitun                               2 bagian

Cetyl alkohol                                 1 bagian

Mentol                                           0,22 bagian

  • Konsentrasi yang digunakan :

–          Contoh Formula (Balsam I;7)

1 – 5%

7 Mentol

Ø   Balsam II, 7-8

Mentol kadang-kadang ditambahkan untuk efek mendinginkan yang ditimbulkannya atau karena baunya lebih disukai oleh sebagian pria.

  • Balsam II; 23

Memberikan rasa dingin untuk menghilangkan rasa sakit pada akhir pencukuran.

  • Keithler; 282

Mentol, secara khusus, merupakan bahan tambahan yang sangat penting dalam banyak produk seperti ini. Berdasarkan berbagai pustaka, mentol dalam krim cukur menutupi iritasi yang disebabkan tiap kali selesai pencukuran maupun oleh krim cukur yang kurang lembut. Mentol memiliki jumlah tertentu dari sifat astringen, anestetik dan antiseptik di dalamnya, sehingga penambahannya mengurangi iritasi terhadap objek, yang disebabkan oleh pencukuran. Di samping sifat ini, ia akan menyebabkan kulit jadi segar dan dingin setelah bercukur.

8 Pengawet

Ø   Balsam I, 206

Eser asam benzoat (metil, propil, etil, butyl) umumnya digunakan dalam krim. Ester metil sebagian besar larut dalam air, sedangkan ester butyl sedikit larut dalam air. Kelarutannya dalam pelarut ditentukan dalam krim.

Ester asam p-hidroksi benzoat umumnya digunakan dalam urin adalah metil, propil, dan butyl. Konsentrasi propil adalah 0,1% dan metil paraben adalah 0,12%

  • Lachman;1063

Emulsi sering mengandung sejumlah bahan seperti karbohidrat, protein, sterol dan fosfolipid dan semua bahan yang menunjang pertumbuhan berbagai mikroorganisme. Dengan tidak adanya salah satu bahan-bahan alam yang telah disebutkan adanya suatu campuran lemak dan air yang bersentuhan seringkali menigkatkan meikroba menetap. Akibatnya pemasukan suatu pengawet merupakan hal yang diperlukan dalam proses formulasi. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih pengawet. Kontaminasi mikroba dapat terjadi selama pengembangan atau produksi suatu emulsi, atau selama penggunaannya. Seringkali kontaminasi mikroba dapat timbul karena penggunaan bahan mentah yang tidak murni, kontaminasi dapat diakibatkan oleh seragam mikroba yang  oportunis

  • Exp;185

Metil paraben 0,18% bersama dengan 0,02% propil paraben

  • Presc; 225

Pengawet metil paraben atau propil paraben yang terkenal karena aktif melawan khamir, bakteri dan jamur. Kombinasi metil paraben 0,2% dengan propil paraben 0,12% sebagai pilihan kombinasi

Ø   DOM; 519

Pengawet lain yang dapat digunakan termasuk 0,2% Natrium benzoat atau asam benzoat atau asam sorbat atau kombinasi dari 0,2% metil paraben dengan 0,02% propilparaben.

9 Antioksidan

  • Jellinek;127

Dua antioksidan (tokoferol dan dihirokroman) terjadi secara alami pada banyak lemak dan sebagian minyak hanya akan menjadi tengik setelah penyimpanan yang lama. Sejak proses pengisian, antioksidan alami ini sering menjadi rusak secara luas.

Dosis optimum antioksidan terjadi pada jenis lemak dan umumnya lebih tinggi untuk lemak hewani daripada untuk minyak nabati. Dengan lemak babi, dosis optimum untuk α-tokoferol adalah sekitar 0,05% dan untuk minyak kedelai adalah 0,01%. Dosis optimum α-tokoferol adalah 0,01% sampai 0,03% adalah cukup.

10 Parfum

Ø   Balsam I; 208

Pemilihan parfum untuk pengunaannya pada lotion dan krim tangan yang sering adalah basis tunggal pada nilai estetik. Hal ini berarti bahwa dari parfum ditambahkan banyak untuk penerimaan produk tangan, tetapi tidak membutuhkan pentingnya ketercampurna dari minyak parfum dengan emulsi. Tentunya tidak melepaskan efek potensial dari bahan parfum sebagai pengiritasi utama atau pensensitasi

IV.      URAIAN BAHAN
  1. Minyak kelapa (MI;  : 384; MD 30th : 1150)

Nama resmi     :  Coconut Oil

Sinonim           :  Coconut butter, oleum cocos

Pemerian         :  putih atau putih pucat, massa besar, tidak berbau atau dengan bau dari coconut (MD 30th : 1108)Cairan jernih tidak berwarna atau kuning pucat, bau khas, tidak tengik atau kuning pucat sapai tidak berwarna. Berbentuk cair pada suhu antara 28˚-30˚C, berbentuk semi padat pada suhu 20˚C dan juga keras, padatan kristal rapuh di bawah suhu 15˚C.

Kelarutan        : 1 dalam 2 bagian alcohol (pada suhu 60˚C) larut bebas dalam CHCl3 dan eter

Titik lebur        :  23-25˚C

BJ                    :  0,903

Penyimpanan   :  Pada suhu tidak lebih dari 25˚C dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

Kestabilan       :  Mudah menjadi tengik ketika terkena udara

Kegunaan        :  Emulgator

2        Asam stearat (FI.III;57)

Nama resmi     :  Acidum stericum

Sinonim           :  Octadecanoic acid

RM/BM           :  C10H12O2/284,47

Pemerian         :  Zat   padat keras mengkilat,    menunjukkan    susunan hablur putih atau kuning pucat, mirip lemak/lilin, terdiri dari campuran asamlemak, asam stearat dan asam palmitat.Menguap secara lambat pada suhu antara 90˚C-100˚C

Kelarutan        : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%) P dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P. 1 gram larut dalam 25 ml aseton atau 6 ml CCl4,larut dalam karbon disulfida dan juga larut dalam amyl asetat, benzena atau toluene

Incompability  :  Stearat yang tidak larut dibentuk dengan banyak logam. Basis salep yang dibuat dengan asam stearat menunjukkan bukti terjadinya pengeringan atau bengkak karena reaksinya ketika garam zink atau kalsium dicampur.

BJ                    :  0,847

Titik lebut        :  64˚C-70˚C

Titik didih       :  363˚C

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan        :  Emulgator

3        Natrium Hidroksida (FI.III;56; Scoville’s;458-459)

Nama resmi     :  Natrii Hydroxydum

Sinonim           :  NaOH, Natrium hidroksida

RM/BM           :  NaOH/40,01

Pemerian         : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida

Kelarutan        :  Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (995%) P

Incompability  :  Banyak dari garam ini membentuk garam yang mana dalam reaksi alkali, alkalisasi biasanya disebabkan oleh hidrolisis garam. Alkalisasi ini baik yang nyata maupun yang sedikit, tergantung pada garam yang digunakan, dan ketika dikombinasikan dengan larutan alkaloidal, maka larutan alkaloidal mungkin akan sedikit mengendap jika sedikit atau tanpa kehadiran alcohol dalam campuran

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan        :  Emulgator

4        Kalium Hidroksida

Nama resmi     :  Potassium Hydroxydum

Sinonim           :  KOH, Kalium hidroksida

RM/TL            :  KOH/36˚C

Pemerian         :  Putih atau bubuk agak kuning, batang atau butir kecil, sanagt pedas, tajam pada jaringan, cepat mengabsorpsi kelembaban dan CO2 dari udara dan ciaran.

Kelarutan        : Larut atau hampir larut sempurna, dalam 1 ml air dan 1 dalam 3 alkohol, sanagt larut dalam alcohol mendidih.

Incompability  :  Basa bereaksi dengan asam membentuk garam membebaskan alkaloid dari larutan encer, garam alkaloid dan menigkatkan berbagai reaksi hidrolisis seperti pemurnian kloralhidrat menjadi CHCl3 dan formiat atau pemecahan salol menjadi fenol dan salisilat. Hanya alkali hidrksida dapat larut dalam air. Hampir semua logam umumnya akan mengendap sebagai OH, ketika larutan garamnya ditambahkan ke dalam larutan OH alkali. Alkali hidroksida bagaimanapun juga khususnya zink, arsenit atau timbal akan larut dalam natrium atau kalium hidroksida yang berlebih.

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan        :  Emulgator

5        Gliserin

Nama resmi     :  Glyserolum

Sinonim           :  Gliserin, gliserol

BM                  :  92,09

Pemerian         : Cairan jernih, seperti sirup; tidak berwarna, rasa manis, berbau khas tajam, tidak enak, higroskopis, netral terhadap lakmus

Kelarutan        :  Dapat   bercampur  dengan air,  dengan etanol,  tidak larut dalam CHCl3 eter, minyak lemak dan minyak menguap

Incompability  : Bahan-bahan pengoksidasi kuat dan dapat meledak dengan bahan-bahan tersebut

Kestabilan       : Gliserin  murni  terutama  pada  pemanasan dengan gas menghasilkan toksin bercampur dengan air, etanol dan Pb, stabil secara kimia

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan        :  Humektan

Konsentrasi     :  sampai 30%

6        Cetyl alcohol (Exp;63; MD 32 th;1383)

Nama resmi     :  Cethyl alcohol

Sinonim           :  Cetanol, alcol cetilia

RM/BM           :  C16H34O / 242,44

Pemerian         : Massa  manis,  putih, bentuk  serbuk atau granul dengan pemberi bau yang khas.

Kelarutan        : Praktis  tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam alcohol, mudah larut dalam eter. Tidak larut jika dilarutkan pada minyak, paraffin cair.

Kegunaan        :  Sebagai  emollient

Stabilitas         : Stabil dalam asam dan alkali, cahaya dan udara, dan tidak menjadi tengik.

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Incompability  :  Tidak tertera dalam berbagai literature

Konsentrasi     :  Emulsifier     2-5%

Pelembut         2-10%

Emolien           2-5%

Penyerap         5%

7        Minyak zaitun (RPS 18th; 1309)

Nama resmi     :  Oleum olive

Sinonim           :  minyak zaitun, minyak manis

Pemerian         : kuning pucat atau kuning kehijauan terang, cairan berminyak, sedikit berbau dan berasa, dengan sedikit berbau tajam.

BJ                    :  0,910 – 0,915

Kelarutan        : sedikit larut dalam alcohol; dapat bercampur dengan karbon disulfida, kloroform atau eter

Kegunaan        : mengurangi iritasi yang ditimbulkan oleh sabun minyak kelapa

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

8        Menthol

Nama resmi     :  Mentholum

Sinonim           :  Menthol

RM/BM           :  C16H20O / 156,30

Pemerian         : Hablur berbentuk jarum atau prisma, tidak berwarna, bau tajam seperti minyak permen, rasa panas dan aromatik disertai rasa dingin

Kelarutan        :  Sukar  larut  dalam air,   sangat  mudah larut  dalam  etanol, dalam CHCl3 and dalam eter, mudah larut dalam paraffin cair dan dalam minyak atsiri

Kegunaan        :  Sebagai  penyegar dan pemberi sensasi dingin

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Incompability  :  Menghasilkan cairan atau massa yang lembut ketika digerus dengan camphor, fenol, kloralhidrat, resorsinol, timol dan subtansi lainnya

9        Metil Paraben (Exp : 284)

Nama resmi     :  Methylis Parabenum

Sinonim           :  Metil paraben, Nipagin

RM/BM           :  C6H8O3 / 152,15

Pemerian         :  Putih, hampir tidak berbau, dengan rasa agal membakar

Kelarutan        :  Sukar  larut  dalam air,  benzen  dan  kalium  iodida,  mudah larut dalam etanol dan eter

Kegunaan        :  Sebagai  pengawet fase air

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Incompability  :  Surfaktan non ionic, besi, basa lemah dan asam kuat

Konsentrasi     :  0,05 – 0,25 % tunggal;  0,18%  kombinasi  dengan  0,02% propil paraben

10    Propil Paraben

Nama resmi     :  Propil paraben

Sinonim           :  Nipasol

RM/BM           :  C10H12O3 / 180,12

Pemerian         :  Serbuk putih atau hablur putih, tidak berwarna

Kelarutan        :  Sangat sukar  larut  dalam air,   mudah larut  dalam  etanol, dalam eter, sukar larut dalam air mendidih

Kegunaan        :  Sebagai  pengawet fase minyak

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Incompability  :  surfaktan non ionic, asam kuat dan basa lemah

Konsentrasi     :  0,05 – 0,25% tunggal; 0,02% kombinasi dengan 0,18% metil paraben

11    a-Tokoferol

Nama resmi     :  Tocopherolum

Sinonim           :  Tokoferol, vit E

RM                  :  C29H50O2

Pemerian         : Tidak berbau atau sedikit berbau, tidak berasa, cairan seperti minyak, kuning, jernih

Kestabilan       : Tidak stabil di udara, dan cahaya terutama dalam suasana alkalis

Kelarutan        :  Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol (95%) P, dan dapat bercampur dengan eter P, dengan aseton P, dengan minyak nabati, dan dengan kloroform.

Kegunaan        :  Sebagai  antioksidan

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

12    Parfum (Lavender oil) (RPS 18th; 1295)

Nama resmi     :  Lavender oil

Sinonim           :  Minyak lavender, minyak bunga levender

Pemerian         : kurang berwarna atau cairan kuning, memiliki sifat bau dan rasa seperti bunga lavender.

BJ                    :  0,875 – 0,888

Kelarutan        : 1 bagian larut dalam 4 bagian dari alcohol 70%

Kegunaan        :  Sebagai parfum

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Kosentrasi       :  0,005 – 0,01%

13    Aquadest (FI.III; 96)

Nama resmi     :  Aqua destillata

Sinonim           :  Air suling

RM/BM           :  H2O/18,02

Pemerian         :  Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa

Penyimpanan   :  Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan        :  Sabagai pelarut

  1. V. PERHITUNGAN BAHAN :

1.   Minyak kelapa 10%

10/100 x 50g + (10/100 x 5g) = 5,5g

2.   Asam stearat 30%

30/100 x 50g + (10/100 x 1,5g) = 16,5g

3.   KOH 7%

7/100 x 50g + (10/100 x 3,5g) = 3,85g

4.   NaOH 1,5%

1,5/100 x 50g + (10/100 x 0,75g) = 0,125g

5.   Gliserol 10%

10/100 x 50g + (10/100 x 5g) = 5,5g

6.   Cetyl alkohol 1%

1/100 x 50g + (10/100 x 0,5g) = 0,55g

7.   Minyak zaitun 2%

2/100 x 50g + (10/100 x 1g) = 1,1g

8.   Mentol 0,2%

0,2/100 x 50g + (10/100 x 0,1g) = 0,11g

9.   Metilparaben 0,2%

0,2/100 x 50g + (10/100 x 0,1g) = 0,11g

10. Propilparaben 0,02%

0,02/100 x 50g + (10/100 x 0,01g) = 0,011g = 11 mg

11. a-tokoferol 0,03%

0,03/100 x 50g + (10/100 x 0,015g) = 0,0165g = 16,5 mg

12. Parfum 0,2%

0,2/100 x 50g + (10/100 x 0,1g) = 0,11g

13. Aquadest 38,25%

55g – (5,5g + 16,5g + 3,85g + 0,125g + 5,5g + 0,55g + 1,1g + 0,11g + 0,11g + 0,011g + 0,0165g + 0,11g) = 28,8375g

Pengenceran :

Propil paraben 11mg

50mg                        ad 225 mg

50mg    ~  11mg

Jadi, sisa minyak kelapa yang digunakan 50 mg – 11mg = 39 mg

a-tokoferol 16,5mg

1mg a-tokoferol = 1,49 uI

1 kapsul natur-e 100 uI a-tokoferol

untuk 16,5 a-tokoferol =  16,5mg x  1,49 uI   =   24,585 uI

1mg

Pengenceran a-tokoferol = 100 uI ad minyak kelapa 2g

Hasil pengenceran = 24,585 x  1g   =   0,24585 g ~ 0,25 g ~ 250 mg

100

Sisa minyak kelapa = 0,250g – 0,0165g = 0,2335 g

VII.CARA KERJA

1.   Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2.   Wadah ditarer 50g dan gelas kimia 55g

3.   Bahan-bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan

4.   Dilakukan pengenceran propilparaben dengan cara :

Ditimbang 50mg propilparaben, dicukupkan sampai 225mg dengan minyak kelapa, ditimbang 50mg yang setara dengan 11mg.

5.   Dilakukan pengenceran a-tokoferol dengan cara :

1 kapsul natur-e dicukupkan dengan minyak kelapa sampai dengan 1g. Ditimbang 250mg hasil pengenceran (setara dengan 16,5 uI a-tokoferol)

6.   Fase minyak :

Dilebur minyak kelapa, asam stearat, minyak zaitun, a-tokoferol, cetyl alkohol dan propilparaben dalam gelas kimia dan dipanaskan pada suhu 80°C.

7.   Fase Air :

KOH, NaOH, gliserol dan air dipanaskan dalam cawan porselen pada suhu 80° C, adkan metil paraben ke dalam larutan tersebut.

8.   Dipindahkan fase air secara perlahan-lahan ke dalam fase minyak yang panas, dengan pengadukan mekanik yang rendah, suhu dijaga sekitar 80° C sampai dengan terjadi saponifikasi sempurna, pengadukan dilanjutkan sampai krim dingin pada suhu kamar.

9.   Mentol yang telah dilarutkan dalam parfum ditambahkan ke dalam krim pada suhu 40° C, diaduk lagi sampai baunya merata.

10. Krim yang telah jadi dimasukkan ke dalam wadah yang telah ditarer kemudian diberi etiket.

Techno Cair (Pembuatan saving soap)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s