APOTEKER oh APOTEKER

Pharmacist atau yang dikenal di Indonesia sebagai Apoteker merupakan suatu Profesi. Profesi yang dimaksud disini bukan profesi yang kita kenal sekarang ini, dimana profesi diartikan sama dengan pekerjaan. Profesi dan pekerjaan sebenarnya adalah dua hal yang berbeda. untuk lebih jelasnya, akan saya uraikan secara singkat sebagai berikut:

  • Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, apoteker, keuangan, militer, dan teknik.

Sedangkan ;

  • Pekerjaan merupakan suatu kegiatan yang tidak bergantung pada keahlian tertentu. Setiap orang dimungkinkan memiliki pekerjaan namun tidak semuanya tertumpu pada satu profesi. Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang.

Sudah jelas bukan perbedaan antara profesi dan pekerjaan…?Jika masih bingung, saya akan menambahkan lagi sedikit. Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik yang membedakannya dari pekerjaan lain. Berikut ini adalah karakteristik dari pekerjaan ke-profesian, meski tidak semua ciri ini berlaku dalam setiap profesi tapi sebagian besar profesi harus memiliki hal-hal berikut ini.

  1. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis: Profesional diasumsikan mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktek.
  2. Asosiasi profesional: Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk orang yang akan menjadi anggotanya
  3. Pendidikan yang ekstensif: Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi.
  4. Ujian kompetensi: Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoretis.
  5. Pelatihan institutional: Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti pelatihan istitusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh sebuah organisasi. Selain itu peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan.
  6. Lisensi: Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
  7. Otonomi kerja: Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar.
  8. Kode etik: Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
  9. Mengatur diri: Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang berkualifikasi paling tinggi.
  10. Layanan publik dan altruisme: Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.

Profesi merupakan jenis pekerjaan tetap dan penuh. Artinya profesi merupakan pekerjaan yang layanannya diperlukan oleh masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi atau memenuhi kebutuhan mereka secara terus menerus. Tanpa layanan tersebut anggota masyarakat akan terganggu kehidupannya. Misalnya, tanpa profesi kepolisian,jaksa dan hakim ketentraman dan keadilan kehidupan masyarakat akan terganggu. Atau tanpa profesi kedokteran dan paramedis anggota masyarakat akan terancam hidupnya.

Nah saya kira penjelasan diatas sudah cukup jelas untuk mengartikan Profesi….

Masih Belum Jelas Juga…??           wahhh.. itu sudah kelewatan…

Tapi saya tidak akan putus asah untuk menjelaskan lebih detailnya, saya akan mencoba berikan contoh kongkritnya. Misalnya Cleaning servis dan Dokter. Cleaning servis adalah suatu pekerjaan tapi bukan profesi. Dengan mengetahui cara menyapu, mengepel, dll seseorang bisa bekerja sebagai cleaning servis. Dokter juga bisa melakukan menyapu, mengepel dan berbagai pekerjaan Cleaning servis, sehingga dokter bisa jadi cleaning servis. tetapi Clening servis tidak bisa melakukan Praktek kedokteran. mengapa..? Pertama karena Clening servis tidak memiliki pengetahuan tentang Medis, dan kedua, ia tidak memiliki Izin praktek yang menandakan dirinya diakui sebagai tenaga Medis.

Huahhhhhh… Menjelaskan tentang Profesi aja sudah membuatku kelelahan.. 

By the way, sebenarnya bukan itu “Poin” yang saya ingin tulis dalam catatanku ini.

Ada hal yang tidak kupahami tentang profesi kefarmasian (Apoteker) yang masih mengganjal dalam benakku hingga aku menulis tentang catatan ini.

Saya tidak tau harus memulainya darimana, sehingga saya bingung untuk membuat catata ini menjadi lebih skematis dan terstruktur.

Apoteker sebagai PROFESI.

Bila dilihat dari defenisi Profesi diatas, sangat jelas bahwa apoteker merupakan suatu Profesi. kecuali poin yang kesepuluh (10).

  1. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis: –> JELAS
  2. Asosiasi profesional: –> Ada IAI (Ikatan Apoteker Indonesia)
  3. Pendidikan yang ekstensif: –> Mulai dari S1 4 tahun, Profesi apoteker 1 tahun
  4. Ujian kompetensi: –> ADA
  5. Pelatihan institutional: —> Ada PKL Apotek dan Rumah Sakit atau INDUSTRI dan Pelatihan/seminar yang didakan IAI
  6. Lisensi: –> ada SIPA (Surat Izin Praktik Apoteker)
  7. Otonomi kerja: –> Ya, Apoteker Bekerja secara Otonom
  8. Kode etik: –> Kode Etik Apoteker Indonesia
  9. Mengatur diri: –> Ya
  10. Layanan publik dan altruisme: Apoteker melayani pasien di apotek dengan keahliannya tanpa Biaya😦

Ya… Poin ke 10 inilah yang membuat saya agak geram, dan sedikit sedih dengan PROFESI yang satu ini..

Dari semua pekerjaan keprofesian, utamanya yang sejawat di bidang kesehatan, semuanya mendapatkan royalti atas jasa keprofesian yang diberikannya, Misalnya konsultasi dokter, akan dikenakan biaya, tindakan pertolongan bidan dan perawat akan dikenakan biaya, bahkan tenaga teknis di laboratorium misalnya, juga diberikan biaya. tapi tidak pernah ada biaya untuk tenaga kefarmasian.

koq Gitu..?

Banyak alasan yang timbul atas pertanyaan ini, misalnya karena farmasis pekerjaannya tidak berat, hanya menyerahkan obat sesuai dengan resep dokter, tidak beda jauh dengan Pelayan toko yang hanya melayani permintaan konsumen. Dan untuk alasan ini, saya harus mengatakan jika pekerjaannya sedemikian mudahnya, mengapa harus Apoteker yang bekerja di Instalasi farmasi atau Apotek..? Asalkan bisa berhitung dan membaca, seharusnya mereka sudah bisa menjadi “Pelayan” kefarmasian. toh yang dikerjakan cuma membaca obat, menyerahkan dan menghitung harganya. tidak perlu sekolah sampai 5 tahun untuk pekerjaan seperti ini kan…! Lulusan SMU bahkan SLTP pun bisa melakukannya.

Atau mungkin ada juga yang mengatakan, Farmasis kan tidak berhadapan langsung dengan pasien, tidak memberikan tindakan medis yang nyata (dilihat oleh pasien), ya memang farmasis tidak melakukan tindakan medis langsung kepada pasien, karena perannya memang bukan disitu. Tetapi farmasis lebih berperan pada saat pemberian terapi pasien, farmasis bertanggung jawab untuk menyesuaikan resap yang diberikan dokter dengan kebutuhan pengobatan pasien. mungkin ini juga yang menyebabkan farmasis tidak dikenal oleh masyarakat karena perannya secara langsung tidak dirasakan pasien. Ironis juga bila farmasis dituntut untuk memberikan pelayanan kefarmasian yang optimum termasuk konsultasi mengenai obat pasien, dan monitoring penggunaan obat paseien, sedangkan aturan/regulasi tentang bagaimana melaksanakan itu tidak ada, utamanya untuk pasien rawat inap di suatu rumahsakit.

Mungkin itulah alasan yang sering diucapkan orang utamanya mereka yang tidak begitu mengerti tentang apa yang sebenarnya menjadi tugas dan tanggungjawab profesi kefarmasian. Meski dikenal seperti itu, farmasis sebenarnya tidak sesederhana itu. Farmasis memberikan obat kepada masyarakat/pasien ketika dokter (dari hasil dignosa) menganggap perlu diberikan obat. tapi tidak se simpel itu, Sebelum memberikan obat “Pesanan” dokter, Farmasis juga melakukan” Screening”  terhadap nota pesanan dokter (resep) apakah sudah benar indikasinya, dosisinya, tepat bentuk sediaannya,dll untuk memastikan rasionalitas penggunaan Obat.  Dan belum cukup sampai disitu apoteker juga dituntut untuk memberikan Informasi dan edukasi tentang cara penggunaan obat secara benar.

Pekerjaan kefarmasian tidak semudah yang dibayangkan, coba saja bila dokter lalai/salah menuliskan dosis sehingga dosisnya tidak tepat, meskipun namanya obat, tapi kalau takaran obatnya tidak tepat ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi;

  1. Bila dosisnya terlalu rendah, obat tidak akan menimbulkan efek, meskipun pasien telah mengkonsumsi obat selama berminggu-minggu, penyakitnya tidak akan sembuh dan biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan pun semakin besar dan bahakn mungkin menimbulkan efek samping yang merugika.
  2. Bila dosisnya telalu besar, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah timbulnya efek keracunan (toksik) dan akibatnya pasien bisa meninggal dunia. Dan untuk hal seperti ini yang menyangkut nyawa seseorang apakah tidak dibutuhkan tenaga profesional yang memiliki pengetahuan khusus…?

Oleh karena itu tenaga kefarmasian di didik sedemikian rupa sehingga expert dalam hal obat-obatan baik efek terapinya, maupun efek sampingnya. Farmasis juga dengan keahliannya/pengetahuannya dapat membantu dokter untuk memilihkan obat yang tepat untuk seorang pasien. Juga dapat mengingatkan dokter bila terjadi kesalahan yang mungkin menyebabkan kegagalan terapi/pengobatan kepada pasien. Dan yang paling spesifik dari seorang farmasis yang bahkan rekan sesama tenaga medis pun tidak dapat melakukannya adalah kemampuan seorang farmasis dalam meracik obat. kadang-kadang, dalam resep dibutuhkan untuk membuat satu jenis sediaan (obat) dalam bentuk tertentu, Misalnya dokter meminta obat salep atau cream sebagai obat gatal untuk diapakai di kulit dengan Zat aktif tertentu yang belum ada di pasaran (Belum ada Industri obat yang membuatnya), dalam hal ini farmasis telah dibekali ilmu untuk meracik obat sesuai dengan kebutuhan, farmasis bisa membuatnya.

Salep dan cream menurut saya, masih tergolong sederhana, bagaimana dengan Suppositoria atau sediaan steril…? coba saja minta orang lain membuatnya..! jangankan orang lain, sesama tenaga kesehatan pun dijamin mereka akan angkat tangan.

hehehehe…. Mungkin sekarang kita akan sedikit berfikir, bahwa ternyata farmasis tidak sesederhana yang kelihatan,  tanggung jawabnya besar, ya memang tanggung jawabnya dan beban pekerjaanya memang berat. Apakah sekarang anda masih berfikir bahwa pekerjaan kefarmasian bisa diambil alih oleh tenaga non-farmasis..? itu terserah anda.

Mungkin itulah gambaran sederhana dari Profesi Kefarmasian, tapi, semakin lama saya mengenal farmasi, semakin banyak pertanyaan yang ada dibenak saya, utamanya ketidak jelasan posisi farmasis sebagai Profesi (di Indonesia loh…),yang menurut teori termasuk dalam profesi tetapi aplikasinya dilapangan tidak demikian. Didalam undang-undang No.29 tahun 2004 tentang Praktek kedokteran, Pada pasal 50 mengenai hak dan kewajiban dokter & dokter gigi utamnya pada bagian (d) Menerima Imbalan Jasa. Lalu bagaimana dengan farmasis…? aturan tentang farmasis justru diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 51 tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. dari sini saja saya sebagai seorang farmsisi sudah sedikit kecewa atas peraturan ini, alasannya :

  • Aturan Pekerjaan kefarmasian ditungkan dalam PP yang secara hirarki perundang-undangan berada satu level dibawah Undang-undang
  • untuk dokter digunakan istilah Praktek (identik dengan keprofesian) bahkan kebidanan dan keperawatan pun menggunakan istilah tersebut, sedangkan Farmasis digunakan istilah Pekerjaan.   maksudnya apa…?
  • Dalam undang-undang No. 36 tahun 2009 Tentang KESEHATAN, pasal 27 ayat 1 berbunyi “Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya”

Tidak ada mekanisme yang jelas tentang aturan ini, utamnya Pasal 27 UU kesehatan. bukan karena saya “mata Duitan” sehingga saya membahas masalah ini, tapi cenderung kearah prihatin melihat profesi yang satu ini.

Analoginya seperti ini (analoginya untuk sektor swasta/ non PNS), Jika dokter melakukan pekerjaan keprofesiannya di klinik (tempat praktek dokter), maka farmasis melakukan pekerjaan keprofesiannya di apotik. Lalu apa yang membedakannya…?

Ketika dokter menerima seorang pasien, dokter akan melakukan diagnosa entah itu dengan bantuan alat medis seperti tensi meter (spignomanometer), Glucotest, dll, ataupun hanya dengan menelusuri keterangan pasien, tetepi kadang juga untuk lebih meyakinkan dokter dalam menetapkan diagnosa, biasanya melakukan test urin, test darah, atau dengan Radiologi. dan untuk jasa tambahan ini pasien dibebani tambahan biaya. Dari hasil pemeriksaan itu dokter lalu menetapkan diagnosa dan menulis resep. Untuk tenaganya ini,(yang hanya menetapkan diagnosa dan menuliskan resep berdasarkan keilmuan yang dimilikinya) dokter diberikan wewenang oleh hukum dan mekanismenya jelas untuk mendapatkan imbalan.

Seorang bidan misalnya ketika membantu seorang ibu untuk melahirkan, maka untuk tenaganya itu, bidan berhak mendapatkan imbalan atas jasanya sesuai dengan keprofesiannya.

Meskipun keperawatan tidak mempunyai landasan hukum dan secara kompetensi untuk melakukan praktek keperawata secara mandiri, (sejauh yang saya tau) tetapi perawat diperbolehkan untuk bekerja membantu dokter. Di klinik misalnya, perawat dalam praktek itu juga sebagai tenaga medis pembantu dokter, perawat akan menerima imbalan atas pekerjaannya.              

  Lalu bagaimana dengan apoteker…?

Apoteker dalam menjalankan Profesinya, yang secara sederhana biasanya setelah menerima resep, akan melakukan screening dan bila dianggap rasional, maka obatnya akan diberikan diikuti dengan pemberian informasi tentang kegunaan obat, efek samping yang mungkin akan timbul, dan memberikan edukasi demi meningkatkan mutu kesehatan pasien. selain itu apoteker juga berkewajiban memberikan konsultasi tentang Obat terhadap pasien bila pasien membutuhkan. Bila terjadi kesalahan, maka besar kemungkinan apoteker dituntut. dan hukumannya bukan hanya pencabutan izin, tapi bisa sampai pada tingkat pidana (penjara) atau denda yang tidak kecil. dan ironisnya, apoteker tidak mendapatkan imbalan jasa apapun untuk itu. Apoteker hanya bisa berharap untuk menafkahi hidupnya dari keuntungan penjualan obat yang sangat kecil, belum lagi frekuensi pembeli juga kecil.

Jika demikian kasusunya dan tidak ada perbaikan di masa depan, maka Lebih baik berhenti menjadi apoteker, dan beralih menjadi retailer atau usaha lain. toh keuntungannya bisa lebih besar dan tidak perlu menanggung resiko bila terjadi kesalahan. bila konsumen menuntut, maka kita dapat melemparkan tanggung jawab ke perusahaan pembuat produk. Dan modal yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah apotek, jumlahnya juga tidak sedikit minimal 500 juta, hahahahha…kapan balik modalnya..? belum lagi perijinan dan pelaporannya. Mending jadi Pedagang Sembako, dengan modal 10-20 juta sudah bisa memulai usaha, pelanggannya banyak, untungnya besar, dan minim resiko dan tanggung jawab.

Lalu mungkin ada yang mengatakan tidak usah bangun apotek, jadi apoteker penanggung jawab apotek aja… kan gak butuh modal besar, dan bisa dapat gaji.

Itu mungkin salah satu solusi, tapi tidak sepenuhnya menjadi solusi, karena menjadi apoteker, tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab yang melekat pada profesi tersebut. anda sebagai apoteker yang bekerja pada pemilik usaha juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab anda untuk memberikan informasi dan edukasi yang tepat terhadap pasien, memberikan konseling, memastikan pengobatan yang rasional dan segala sesuatu yang menjadi tanggun jawab apoteker. Gaji yang anda terima dari Pemilik sarana pun mungkin akan berkisar antara 2-3 juta, itupun bila nilai tawar anda tinggi, bisa jadi cuma 1-2 juta. Jika seperti ini, saya sekali lagi memilih menjadi Pramuniaga atau pelayan di suatu toko atau super market, gajinya kan juga lumayan 1-2 juta, tidak perlu menempuh pendidikn formal yang sangat sulit dan sangat mahal serta sangat lama. tidak butuh sumpah, tidak butuh kode etik, tidak butuh tanggung jawab yang tinggi terhadap keselamtan nyawa seseorang, dll. Toh Gajinya juga hampir sama. dan tidak tertutup kemungkinan bisa mendaptkan pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dengan resiko yang lebih kecil.

The really Questions is…:

  1. Siapa Apoteker di Indonesia? (Indonesia sengaja saya tebalkan, karena nasib apoteker yang seperti ini hanya ada di Indonesia)
  2. Apakah pekerjaan seorang apoteker ?
  3. Apakah “lulusan” pendidikan apoteker memahami format pekerjaan seorang Apoteker ?
  4. Apakah pemerintah memahami dan melegitimasi pekerjaan keprofesian apoteker ?
  5. Apakah pemerintah mengetahui dan memahami format pekerjaan kefarmasian ?
  6. Apakah masyarakat awam memahami dan mengakui pekerjaan apoteker ?
  7. Apakah Profesi lainnya,khususnya kesehatan, mengenal,memahami dan mengakui pekerjaan apoteker ?

Itulah Sedikit catatan saya tentang profesi Kefarmasian
Semoga Suatu Hari kelak, akan ada perubahan
dan Kita tidak perlu lagi meratapi nasib
Sebagai seorang Farmasis…:)

APOTEKER oh APOTEKER

5 pemikiran pada “APOTEKER oh APOTEKER

  1. ks berkata:

    indahnya Farmasis : kenal ilmu kimia murni, teknik kimia, biologi sel, anatomi tumbuhan, binatang dan manusia, kosmetika, farmasetika, sangat mengerti apa itu simplisia, mempu meracik obat, menguasai instrument Lab. Farmasi. menguasai Farmako ekonomi, berjiwa pemimpin. kenal reaksi obat terhadap tubuh. kesimpulannya : Saya bisa sejahtera dengan keprofesian sy dan mensejahterakan banyak orang. Ingat bicara farmasi bukan hanya Rumah Sakit & Apotek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s